![]() |
| Penanganan medis oleh tenaga kesehatan terhadap pasien di ruang IGD, di dampingi keluarga dalam situasi darurat. (Dok. Ist) |
Bagi banyak warga Aceh, ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah tempat yang selalu diingat dengan perasaan campur aduk. Ada harapan, ada ketakutan, dan ada penantian yang terasa lama. Di ruang inilah keluarga menunggu kabar tentang orang terdekat, sering kali dalam kondisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Suasana IGD hampir selalu sama. Perawat dan dokter bergerak cepat, alat medis berbunyi, sementara keluarga pasien duduk gelisah atau mondar-mandir di lorong. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan keluarga bukan hanya tindakan medis, tetapi juga penjelasan yang bisa sedikit menenangkan hati.
IGD merupakan ruang pelayanan kesehatan dengan tingkat kegawatan tertinggi. Setiap detik sangat berarti. Karena itu, tenaga kesehatan dituntut bekerja cepat dan tepat sesuai prosedur yang berlaku.
Masalah muncul ketika ritme kerja tersebut bertemu dengan kondisi emosional keluarga pasien. Keluarga datang dalam keadaan panik, cemas, dan penuh tanda tanya. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi, apa yang dilakukan tenaga medis, dan bagaimana kondisi orang yang mereka cintai.
Kepanikan ini wajar. Siapa pun akan gelisah ketika berhadapan dengan kemungkinan terburuk. Namun, di saat yang sama, perawat IGD harus fokus pada tindakan penyelamatan. Mereka menilai tingkat kegawatan, menentukan prioritas, dan menangani lebih dari satu pasien dalam waktu bersamaan.
Menurut pengalaman Sri Widiyastuti, A.Md.Kep, perawat yang telah puluhan tahun bertugas di berbagai unit pelayanan, kondisi inilah yang sering memicu salah paham. Keluarga menuntut penjelasan cepat, sementara perawat harus mendahulukan tindakan medis. Ketika penjelasan belum sempat diberikan, emosi keluarga pun mudah meningkat.
Akibatnya, perawat dibanjiri pertanyaan, bahkan saat tindakan sedang berlangsung. Ada keluarga yang sulit memahami istilah medis, ada pula yang berbicara dengan nada tinggi karena merasa diabaikan. Dalam kondisi darurat, jawaban singkat yang dimaksudkan agar cepat dan efisien sering disalahartikan sebagai sikap dingin.
Persoalan ini semakin rumit karena masih banyak masyarakat yang belum memahami cara kerja IGD. Tidak sedikit yang mengira pasien dilayani berdasarkan siapa yang datang lebih dulu. Padahal, di IGD, pasien dengan kondisi paling kritis harus ditangani terlebih dahulu, meski datang belakangan.
Ketika hal ini tidak dipahami, kekecewaan pun muncul. Keluarga merasa tidak diperhatikan, sementara tenaga kesehatan merasa sudah bekerja sesuai aturan.
Jika situasi seperti ini terus berulang, dampaknya bisa ke mana-mana. Perawat mengalami tekanan mental, keluarga menyimpan rasa kesal, dan kepercayaan terhadap layanan kesehatan bisa perlahan menurun. Dalam beberapa kasus, miskomunikasi bahkan berujung pada konflik di rumah sakit.
Karena itu, persoalan komunikasi di IGD tidak boleh dianggap sepele. Ini bukan hanya soal medis, tetapi juga soal kemanusiaan.
Langkah sederhana sebenarnya bisa membantu. Penjelasan singkat tentang alur pelayanan dan sistem prioritas di IGD dapat dipasang di ruang tunggu. Keluarga juga bisa diarahkan menunjuk satu orang sebagai perwakilan untuk menerima informasi agar tidak terjadi salah paham.
Pada akhirnya, IGD bukan hanya tempat menyelamatkan nyawa, tetapi juga ruang menjaga kepercayaan. Di tengah kepanikan keluarga dan sunyinya penjelasan, komunikasi yang manusiawi menjadi penentu apakah pelayanan darurat benar-benar bisa dirasakan adil dan menenangkan oleh masyarakat.
Editorial:
Muhammad Raziq
Penulis:
Eka Octarina Ramadhani
Firman Sekozean Sihombing
Herda Trianaputri
Fawwaz Fattah Khair
Septriana Hutasoit
Dosen Pengampu:
Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos
