Lhokseumawe – Penyair muda Dzikrillah Dzakwan Missyal kembali menghadirkan karya sastra bertajuk "Semboyan Kematian", sebuah puisi yang mengangkat tema kehilangan, cinta, dan penerimaan atas kenyataan hidup.
Puisi tersebut tidak memaknai kematian sebagai akhir dari kehidupan, melainkan sebagai simbol matinya harapan ketika cinta tidak lagi menemukan tempat untuk bertahan. Melalui karya ini, Dzikrillah mengajak pembaca memahami bahwa kehilangan bukan hanya tentang berpisah dengan seseorang, tetapi juga tentang melepaskan impian dan masa depan yang pernah dirancang bersama.
Dalam setiap baitnya, penyair menggunakan berbagai simbol seperti sajak, telaga, bara, abu, embun, dan nisan untuk menggambarkan perjalanan batin seseorang yang berusaha berdamai dengan luka. Simbol-simbol tersebut menjadi refleksi bahwa tidak semua luka harus dihapus, melainkan dapat diterima sebagai bagian dari proses kehidupan.
Dzikrillah menuturkan bahwa Semboyan Kematian lahir dari ruang perenungan yang mendalam mengenai makna cinta dan kehilangan. Salah satu larik yang menjadi inti puisi tersebut, "Hidup demi mati, mati untuk dicintai," menggambarkan kesadaran bahwa mencintai dengan tulus juga berarti siap menerima kenyataan bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan tetap tinggal.
Melalui puisi ini, Dzikrillah ingin menyampaikan bahwa cinta tidak benar-benar mati. Cinta dapat terus hidup dalam ingatan, doa, maupun setiap aksara yang dituliskan. Yang perlahan berakhir justru adalah kisah yang pernah diyakini akan memiliki akhir bahagia.
Karya sastra ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi para pembaca untuk memaknai kehilangan dari sudut pandang yang lebih bijaksana. Dengan bahasa yang puitis dan sarat makna, Semboyan Kematian mengajak pembaca memahami bahwa setiap luka dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan dan penerimaan diri.