LPMH Update: Intelektual, Independen, Berintegritas — Mengawal Keadilan Melalui Kata dari Kampus untuk Negeri — LPMH Universitas Malikussaleh.
Dilarang menyalin, memperbanyak, atau mempublikasikan kembali seluruh maupun sebagian isi berita LPMH tanpa izin resmi dari Lembaga Pers Mahasiswa Hukum (LPMH).

Iklan

Aktivitas Tarek Pukat di Laut Ujung Bate, Tradisi Nelayan yang Sarat Nilai Kebersamaan

LPMH
...

 

Kegiatan Tarek Pukat, Laut Ujung Bate dok/LPMH
Lhokseumawe – Aktivitas tarek pukat masih menjadi pemandangan khas di kawasan Laut Ujung Bate, Kota Lhokseumawe, Aceh. Tradisi menangkap ikan secara bergotong royong ini tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian para nelayan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di kawasan Laut Ujung Bate, aktivitas tarek pukat umumnya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika kondisi laut relatif tenang. Prosesnya diawali dengan menebarkan jaring (pukat) ke laut menggunakan perahu, kemudian para nelayan secara bersama-sama menarik jaring tersebut hingga ke bibir pantai.

Pemandangan ini kerap menarik perhatian masyarakat yang melintas. Para nelayan tampak berbaris sambil menarik tali pukat secara serempak, menciptakan irama kerja yang kompak. Aktivitas tersebut tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kekompakan dan koordinasi agar hasil tangkapan dapat diperoleh secara maksimal.

Menurut keterangan nelayan setempat, proses tarek pukat biasanya berlangsung sekitar satu hingga dua jam, bergantung pada kondisi cuaca, arus laut, dan banyaknya hasil tangkapan. Selama proses berlangsung, setiap nelayan saling membantu untuk meringankan beban menarik jaring dari tengah laut menuju daratan.

Lebih dari sekadar aktivitas mencari ikan, tarek pukat juga mengandung nilai sosial yang tinggi. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kerja sama, gotong royong, serta semangat berbagi hasil tangkapan di antara para nelayan yang ikut terlibat.

Keberadaan tarek pukat menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Aceh. Tradisi tersebut terus dipertahankan meskipun perkembangan teknologi penangkapan ikan semakin modern. Semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya juga diabadikan melalui Tari Tarek Pukat, yang menggambarkan kerja keras, kekompakan, dan solidaritas para nelayan.

Dengan berbagai nilai yang dimilikinya, tarek pukat bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat pesisir Lhokseumawe. Pelestarian tradisi ini diharapkan terus dilakukan agar generasi muda tetap mengenal, menghargai, dan melestarikan kearifan lokal yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Aceh.

BERITA LAINNYA