![]() |
| Gambar Visual dok/goggle |
LPMH-Di sebuah lembah yang teduh, lahirlah "Sang Bintang". Ia adalah sebutir cahaya yang terbang lebih tinggi, memancarkan kilau emas yang pekat karena matang dalam prosesnya sendiri. Ia adalah pesona yang sunyi.
Namun, keindahan itu perlahan berubah menjadi pemandangan yang menggelitik.
Melihat kilau Sang Bintang begitu dikagumi, penghuni malam yang lain mulai gelisah dengan dirinya sendiri. Alih-alih merawat lentera masing-masing, mereka memilih jalan pintas: meniru habis-habisan.
Jika Sang Bintang terbang meliuk ke kanan, semua ikut berbelok ke kanan. Jika Sang Bintang meredup sejenak, yang lain ikut mematikan cahayanya, berpura-pura melakukan hal filosofis yang sama. Bahkan, ada yang nekat mengecat sayapnya dengan warna emas tiruan agar terlihat serupa dari kejauhan.
Mengikuti gaya sang idola memang nyaman karena ada jaminan perhatian instan. Mereka tidak perlu lelah mencari jalur terbang baru di dalam gelap. Cukup mengekor tepat di belakang Sang Bintang, mereka merasa sudah ikut menjadi megah.
"Warna bisa dicat dan jalur bisa dijiplak, tetapi jiwa di balik kepakan sayap pertama tidak akan pernah bisa ditiru."
Lama-kelamaan, lembah itu menjadi membosankan. Malam tidak lagi menyajikan keberagaman, melainkan berubah menjadi parade replika yang seragam. Sang Bintang tetap melesat jauh tak terkejar, sementara para pengekor mulai kelelahan karena terus memakai topeng yang bukan milik mereka.
Cerita ini menitipkan sebuah pesan sunyi: mengagumi cahaya lain itu indah, namun memadamkan lentera diri sendiri demi menjadi salinan orang lain adalah sebuah kesia-siaan. Malam yang megah tidak dibangun oleh satu bintang dan ribuan tiruannya, melainkan oleh keberanian setiap makhluk untuk setia pada warna aslinya.
