![]() |
| Flyer Opini Di Tulis Oleh: Waly Daini Amadiyah Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh |
Kabupaten Deli Serdang saat ini tengah menghadapi situasi yang sangat mengkhawatirkan. Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkotika tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kriminal semata, melainkan telah berkembang menjadi ancaman sosial yang serius terhadap masa depan generasi muda dan stabilitas kehidupan masyarakat.
Pengungkapan berbagai kasus narkoba, penggerebekan sejumlah lokasi yang diduga menjadi pusat peredaran narkotika, hingga meningkatnya jumlah tersangka dalam beberapa bulan terakhir menjadi indikator bahwa Deli Serdang sedang berada dalam kondisi darurat narkoba. Fenomena ini tidak boleh hanya dipahami sebagai keberhasilan aparat dalam melakukan penindakan, melainkan harus dilihat sebagai sinyal kuat bahwa jaringan narkotika telah tumbuh dan berkembang secara sistematis di tengah masyarakat.
Ketika narkoba telah masuk ke lingkungan pemuda, pelajar, bahkan masyarakat lapisan bawah, maka yang terancam bukan hanya individu, tetapi juga masa depan sosial daerah secara keseluruhan. Persoalan ini menjadi gambaran nyata rapuhnya ketahanan sosial masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan sosial.
Menurut Waly Daini Amadiyah, persoalan narkoba di Deli Serdang menunjukkan bahwa negara masih terlalu berfokus pada pendekatan represif melalui penegakan hukum, sementara akar persoalan yang melatarbelakangi tumbuh suburnya peredaran narkoba belum sepenuhnya tersentuh.
"Negara jangan hanya hadir saat penggerebekan dan konferensi pers. Persoalan narkoba tidak akan pernah selesai apabila kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial terus dibiarkan tumbuh di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia menilai bahwa berkembangnya jaringan narkoba bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Banyak generasi muda saat ini hidup dalam tekanan sosial dan ekonomi yang semakin berat. Ruang kreativitas pemuda semakin terbatas, kesempatan kerja masih minim, sementara pendidikan belum sepenuhnya mampu menjadi instrumen mobilitas sosial bagi masyarakat kecil.
Dalam kondisi demikian, narkoba hadir sebagai jebakan yang perlahan menghancurkan masa depan generasi muda.
"Kita harus jujur mengatakan bahwa narkoba berkembang di tengah kondisi sosial yang rapuh. Ketika anak muda kehilangan harapan terhadap masa depan, mereka menjadi kelompok yang paling rentan dijadikan sasaran jaringan narkoba," ungkapnya.
Waly juga menyoroti munculnya istilah "kampung narkoba" di sejumlah wilayah Deli Serdang. Menurutnya, istilah tersebut bukan hanya memalukan, tetapi juga menjadi alarm keras terhadap kegagalan negara dalam menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial hingga ke tingkat akar rumput.
"Ketika sebuah wilayah dikenal sebagai kampung narkoba, maka itu bukan hanya kegagalan masyarakat, tetapi juga kegagalan negara dalam menghadirkan keadilan sosial. Jangan hanya menyalahkan rakyat sementara akar persoalannya tidak pernah benar-benar diselesaikan," tegasnya.
Dalam perspektif politik dan sosial, narkoba harus dipandang sebagai ancaman terhadap kualitas demokrasi dan masa depan bangsa. Generasi muda yang rusak akibat narkoba berpotensi kehilangan daya kritis, produktivitas, serta orientasi dalam kehidupan sosial maupun politik. Dampaknya, masyarakat akan semakin mudah terjebak dalam lingkaran kemiskinan, kriminalitas, dan ketidakstabilan sosial.
Amadiyah juga mengkritik pendekatan pemerintah yang selama ini dinilai masih bersifat seremonial dalam upaya pemberantasan narkoba. Menurutnya, slogan perang melawan narkoba tidak akan memiliki makna apabila tidak diikuti dengan kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
"Pemerintah terlalu sering berbicara tentang perang melawan narkoba, tetapi lupa membangun perang melawan kemiskinan dan pengangguran. Padahal, dua persoalan itulah yang sering menjadi pintu masuk berkembangnya jaringan narkotika," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemberantasan narkoba membutuhkan keberanian politik yang nyata. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap oknum aparat maupun pihak-pihak yang diduga terlibat dalam melindungi jaringan narkoba.
"Jangan sampai hukum hanya keras kepada masyarakat kecil, tetapi lemah terhadap aktor-aktor besar di belakang jaringan narkoba. Jika itu terjadi, maka kepercayaan masyarakat terhadap negara akan semakin runtuh," ujarnya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, Waly Daini Amadiyah menegaskan bahwa kampus dan mahasiswa tidak boleh bersikap diam terhadap situasi ini. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kekuatan intelektual sekaligus agen perubahan yang mampu mengawal berbagai persoalan masyarakat.
"Mahasiswa tidak boleh hanya sibuk di ruang kelas dan seminar akademik. Ketika masyarakat sedang menghadapi ancaman serius seperti narkoba, maka mahasiswa harus hadir menyuarakan kegelisahan rakyat," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa gerakan melawan narkoba harus dibangun secara kolektif melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen sipil. Menurutnya, penyelamatan generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat keamanan semata.
Selain penegakan hukum, pemerintah juga perlu memperkuat program pendidikan anti-narkoba, pemberdayaan ekonomi masyarakat, rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika, serta pembangunan ruang kreativitas dan pengembangan potensi bagi generasi muda.
"Kita membutuhkan gerakan sosial yang nyata, bukan sekadar slogan. Pemuda harus diberikan ruang untuk berkembang, bekerja, dan berkarya. Jika negara gagal menyediakan itu, maka jaringan narkoba akan terus mencari celah untuk merusak generasi muda," katanya.
Di akhir pernyataannya, Waly Daini Amadiyah mengingatkan bahwa Deli Serdang saat ini berada di persimpangan penting yang akan menentukan masa depan daerah. Apabila persoalan narkoba tidak segera ditangani secara serius, terukur, dan menyeluruh, maka daerah ini berpotensi menghadapi krisis sosial yang lebih besar di masa mendatang.
"Narkoba bukan hanya menghancurkan tubuh manusia, tetapi juga menghancurkan cita-cita, moralitas, dan masa depan bangsa. Negara tidak boleh kalah dari bandar, dan masyarakat tidak boleh menyerah terhadap ancaman yang sedang merusak generasi muda hari ini," tutupnya.
