Penulis: Sarah Humaira, Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
Mengapa kita ingin pulang saat Ramadan? Apakah sekadar melepas rindu, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang kita cari?
Bagi mahasiswa perantau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah pertemuan antara rindu, lelah, dan harapan yang lama tersimpan. Namun, di balik kebahagiaan yang tampak, mudik mahasiswa juga menyimpan realitas yang tidak selalu sederhana.
Setiap Ramadan, harga tiket transportasi cenderung meningkat. Hal ini membuat banyak mahasiswa harus berpikir ulang untuk pulang. Di sisi lain, kebutuhan perjalanan serta keinginan membawa oleh-oleh menjadi beban tambahan. Dalam kondisi keuangan yang terbatas, mudik bukan hanya tentang rindu, tetapi juga tentang kemampuan.
Di lingkungan kampus, kepekaan terhadap kondisi ini pun belum sepenuhnya hadir. Jadwal kuliah yang padat hingga mendekati hari raya, ditambah tugas yang terus berjalan, memaksa mahasiswa berpacu dengan waktu. Tidak sedikit yang pulang dalam keadaan lelah, bahkan masih dibayangi tanggung jawab akademik. Padahal, memberi kelonggaran waktu sebelum Ramadan adalah bentuk empati yang patut dipertimbangkan.
Perjalanan pulang juga bukan sekadar soal jarak. Mahasiswa membawa kegelisahan tentang masa depan, pencapaian, dan berbagai pertanyaan yang menunggu di rumah. Pertanyaan seperti “kapan lulus?” atau perbandingan dengan orang lain kerap muncul tanpa disadari dampaknya. Padahal, setiap mahasiswa sedang menjalani proses yang berbeda. Karena itu, rumah semestinya menjadi ruang pulang, bukan ruang penilaian.
“Yang penting, luangkan waktu untuk berbuka puasa bersama ayah dan ibu. Ingat, Nak… Ramadan akan selalu datang, tetapi ayah dan ibu belum tentu ada di setiap Ramadan,” ucap seorang ibu.
Bagi mereka yang masih memiliki orang tua lengkap, kalimat ini menjadi pengingat yang paling jujur—bahwa waktu tidak selalu datang dua kali.
Pada akhirnya, mudik bagi mahasiswa bukan sekadar perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah ambisi mengejar masa depan, ada waktu bersama keluarga yang tidak akan pernah bisa diulang.
